Hari ini,saat menjenguk keluarga yang dirawat di rumah sakit, saya tidak sengaja mendengar seorang pasien komplain atas kecacatan yang dideritanya akibat meminum obat x terhadap dokter yang memberi obat tsb.
seperti biasa, si dokter langsung mengeluarkan jurus ampuhnya..yaitu istilah-istilah medis yang pastinya memukul telak si pasien hingga menarik diri, dan meratapi 'nasib' nya.
Timbul pemikiran di benak saya..Apakah Dokter selalu benar?...
dokter juga manusia, kadang benar dan kadang salah. Batas 'benar' dan 'salah' dalam dunia kedokteran adalah standar medis. Standar medis ialah aturan, atau protokol yang dilakukan oleh dokter, dalam menangani suatu penyakit.
Nah, jika si dokter melanggar protokol penanganan penyakit ini, barulah si dokter bisa disalahkan. Inilah yang kita sebut sebagai Malpraktek.
Apakah setiap dokter pernah mengalami Malpraktek?
Hmmm...bagaimana ya....tapi karena dokter itu juga manusia, pastinya tidak akan luput dari Malpraktek, kadang kita bisa lupa, gugup atau bahkan takut dalam menangani penyakit.
eits...jangan langsung menilai buruk dulu pada kaum dokter (apalagi yang arogan+petantang-petenteng itu,he3x) ada solusi dari pemerintah untuk meminimalkan terjadinya Malpraktek, yaitu...si dokternya musti disuruh belajar lagi...trus belajarnya yang betul-betul benar! (alay)
Ha3x.....belajar rodi+romusha inilah yang disebut dengan ujian kompetensi. Ibarat james bond yang punya license to kill, atau SIM A yang harus kita miliki saat berkendara mobil, si dokter juga harus punya license itu.....atau Seperti SIM saat berkendara.
license itu akan diperoleh dokter, ketika dia berhasil lulus di ujian kompetensi. ujian ini diadakan setiap 5 tahun, untuk menjaga supaya dokter tetap belajar, dan update terhadap perkembangan terapi medis.
license itulah yang disebut sebagai Surat Tanda Registrasi (STR). bagi dokter yang sudah memiliki STR, maka dia telah dianggap kompeten oleh negara untuk melakukan tindakan medis.
gitu ceritanya...jadi, Apakah Dokter selalu benar? :).......
Thursday, February 23, 2012
Monday, February 20, 2012
awas herpes zooster!
jika di daerah badan keluar brintil-brintil berisi air jernih, dengan dasar kulit berwarna merah, kemudian tersebar di satu sisi badan (kiri saja atau kanan saja) diikuti dengan rasa panas dan sakit yang luar biasa, mungkin itu herpes zooster.
sebaiknya segera berkunjung ke dokter anda. Prognosa penyakit ini baik, bukan penyakit yang parah, meskipun orang awam sangat takut dengan penyakit ini, katanya jika penyakit ini dibiarkan nanti akan menyebar di seluruh tubuh, dan akhirnya menyatu. Jika menyatu, maka pasien langsung meninggal. tentunya konsep pikiran sangat salah sekali ;)
penyebab herpes zooster sama dengan varicella (cacar air), dan akan mendapatkan terapi yang hampir sama pula. cuma pada herpes zooster akan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa, dan tentunya hal ini akan diatasi dengan obat yang diberikan oleh dokter anda
oke, semoga informasinya berguna :)
sebaiknya segera berkunjung ke dokter anda. Prognosa penyakit ini baik, bukan penyakit yang parah, meskipun orang awam sangat takut dengan penyakit ini, katanya jika penyakit ini dibiarkan nanti akan menyebar di seluruh tubuh, dan akhirnya menyatu. Jika menyatu, maka pasien langsung meninggal. tentunya konsep pikiran sangat salah sekali ;)
penyebab herpes zooster sama dengan varicella (cacar air), dan akan mendapatkan terapi yang hampir sama pula. cuma pada herpes zooster akan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa, dan tentunya hal ini akan diatasi dengan obat yang diberikan oleh dokter anda
oke, semoga informasinya berguna :)
Saturday, November 12, 2011
Friday, November 11, 2011
nah...setelah mencoba ini,itu,akhirnya bisa juga attach foto di blog..he3x
![]() |
| From Drop Box |
belajar dengan membuat komik
tes
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi3sqbczy8ETIC8ty7jsaPxnhwM_s-qFYlF7xyNuxtLwQyaJ2_bgjSotnyktD6JJ7FIEfaHqze5lSeXHV6axcfPvBi57BY-lfFQ_tOtI25dPcdTWrDrkr52nTl_U2qEw7D9ny8RC5d3Yb50/s144/image.jpeg
Monday, November 7, 2011
Belajar Dengan Membuat Komik!
Lucu memang jika membaca judul diatas....tetapi akan jadi sesuatu yang sangat menyenangkan bukan? bayangkan...ketika kita membaca komik, lalu yang ditanya di ujian adalah seputar isi cerita komik yang kita baca. Wah, mungkin nilainya jadi A semua yak..ha3x.
Tetapi hal tersebut sudah mulai dikembangkan dewasa ini, dengan hadirnya beberapa buku yang mengulas tentang cara kerja otak ataupun keseimbangan otak.
Salah satu buku yang harus dibaca adalah buku Pak Sutanto Windura,yang berjudul 'be an absolute genius'. Pengikut setia Tony Buzan,sang penemu mind mapping, ( kalo ngg tau mind mapping itu apa, tanya om google aja ya) menjelaskan dengan detail, tentang bagaimana kedua belahan otak kiri maupun kanan itu bekerja. Tentunya belahan kiri memiliki fungsi yang berbeda dengan yang kanan, dan itu dikupas tuntas di buku tersebut.
Komik adalah perpaduan gambar dan tulisan, yang sebenarnya menyeimbangkan kerja kedua belahan otak kita. Tulisan yang dicerna oleh otak kiri, dan gambar yang dicerna oleh otak kanan. itu sebabnya kita lebih mudah memahami komik dibandingkan dengan novel, karena pada saat kita membaca komik, kerja otak kita menjadi maksimal.
sound interesting right?
Tetapi hal tersebut sudah mulai dikembangkan dewasa ini, dengan hadirnya beberapa buku yang mengulas tentang cara kerja otak ataupun keseimbangan otak.
Salah satu buku yang harus dibaca adalah buku Pak Sutanto Windura,yang berjudul 'be an absolute genius'. Pengikut setia Tony Buzan,sang penemu mind mapping, ( kalo ngg tau mind mapping itu apa, tanya om google aja ya) menjelaskan dengan detail, tentang bagaimana kedua belahan otak kiri maupun kanan itu bekerja. Tentunya belahan kiri memiliki fungsi yang berbeda dengan yang kanan, dan itu dikupas tuntas di buku tersebut.
Komik adalah perpaduan gambar dan tulisan, yang sebenarnya menyeimbangkan kerja kedua belahan otak kita. Tulisan yang dicerna oleh otak kiri, dan gambar yang dicerna oleh otak kanan. itu sebabnya kita lebih mudah memahami komik dibandingkan dengan novel, karena pada saat kita membaca komik, kerja otak kita menjadi maksimal.
sound interesting right?
Monday, November 16, 2009
NSAIDs, Aspirin dan Acethaminophen sebagai Analgetik pada Anak
NSAIDs, Aspirin dan Acethaminophen sebagai Analgetik pada Anak
Deddy Eka FL
Pemberian analgetik harus diperhitungkan ada pasien neonatus, infant dan anak. Pada neonatus dan infant terdapat perbedaan kompartement tubuh, sistem enzim hati dan protein plasma binding yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan anak-anak.
Hal ini mengakibatkan perbedaan bioavailability farmakodinamik dan farmakokinetik.
Keadaan ini dengan sendirinya menciptakan teknik pemberian obat yang berbeda antara infant dan anak-anak. Perbedaan fungsi hati yang mencolok, dimana pada anak-anak diciptakan oleh adanya suatu penambahan massa pada sel hati, membuat obat yang masuk di dalam tubuh dimetabolisme lebih cepat dibandingkan dengan infant. Hingga pengurangan interval pemberian dosis batas normal diperlukan pada anak-anak, terutama pada umur 2 sampai dengan 6 tahun.
Pemberian NSAIDs, Aspirin dan Acethaminophen pada anak
Pemberian aspirin sudah menurun sejak diketahui adanya sindroma reye. Tetapi aspirin masih digunakan pada kasus rematologi dan pencegahan agregasi trombosit. Pada beberapa penelitian, efek analgetik aspirin sebanding dengan ibuprofen, dimana ibuprofen memiliki tingkat keamanan yang lebih baik.
Acetaminopen sudah sangat popular digunakan akhir dekade ini. Dosis yang aman digunakan untuk anak adalah 10-15 mg/kgbb/4 jam untuk anak. Pada pemberian dosis tunggal secara rectal, 35-45 mg/kgbb memberikan efek terapi. Pemberian dosis terbagi paracetamol secara rectal, menggunakan dosis yg lebih kecil (20 mg/kgbb) dimana jangka waktu pemberian dapat dilakukan dalam 6 atau 8 jam berikutnya. Pemberian dosis rectal pada preterm neonatus yang aman adalah 20 mg/kgbb.
NSAIDs memiliki distribusi yang lebih baik pada anak, dibandingkan dengan dewasa. Efek samping gastrointestinal dan gagal ginjal pada pemberian jangka pendek, sangat jarang ditemukan pada anak-anak. Beberapa penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada efek analgetic NSAIDs dan acetaminophen, sedangkan beberapa penelitian yang lain menunjukkan keuntungan pemberian NSAIDs dibandingkan dengan acetaminophen. Pemberian NSAIDs lebih menguntungkan untuk mengharapkan efek analgesic post operasi, tetapi efek pendarahan ( paling banyak post tonsilectomi pada anak ) juga harus dipertimbangkan. Ibuprofen terbukti lebih efektif dibanding acetaminophen untuk kasus migraine pada anak.
Pemberian selecktif cox 2 inhibitor belum banyak diteliti pada anak-anak.
Tulisan ini diambil dari :
Berde CB, Sethna NF. Analgesics for the treatment of pain in children. The New England Journal of Medicine. 2002. 374 (14) : 1094-1101.
Deddy Eka FL
Pemberian analgetik harus diperhitungkan ada pasien neonatus, infant dan anak. Pada neonatus dan infant terdapat perbedaan kompartement tubuh, sistem enzim hati dan protein plasma binding yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan anak-anak.
Hal ini mengakibatkan perbedaan bioavailability farmakodinamik dan farmakokinetik.
Keadaan ini dengan sendirinya menciptakan teknik pemberian obat yang berbeda antara infant dan anak-anak. Perbedaan fungsi hati yang mencolok, dimana pada anak-anak diciptakan oleh adanya suatu penambahan massa pada sel hati, membuat obat yang masuk di dalam tubuh dimetabolisme lebih cepat dibandingkan dengan infant. Hingga pengurangan interval pemberian dosis batas normal diperlukan pada anak-anak, terutama pada umur 2 sampai dengan 6 tahun.
Pemberian NSAIDs, Aspirin dan Acethaminophen pada anak
Pemberian aspirin sudah menurun sejak diketahui adanya sindroma reye. Tetapi aspirin masih digunakan pada kasus rematologi dan pencegahan agregasi trombosit. Pada beberapa penelitian, efek analgetik aspirin sebanding dengan ibuprofen, dimana ibuprofen memiliki tingkat keamanan yang lebih baik.
Acetaminopen sudah sangat popular digunakan akhir dekade ini. Dosis yang aman digunakan untuk anak adalah 10-15 mg/kgbb/4 jam untuk anak. Pada pemberian dosis tunggal secara rectal, 35-45 mg/kgbb memberikan efek terapi. Pemberian dosis terbagi paracetamol secara rectal, menggunakan dosis yg lebih kecil (20 mg/kgbb) dimana jangka waktu pemberian dapat dilakukan dalam 6 atau 8 jam berikutnya. Pemberian dosis rectal pada preterm neonatus yang aman adalah 20 mg/kgbb.
NSAIDs memiliki distribusi yang lebih baik pada anak, dibandingkan dengan dewasa. Efek samping gastrointestinal dan gagal ginjal pada pemberian jangka pendek, sangat jarang ditemukan pada anak-anak. Beberapa penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada efek analgetic NSAIDs dan acetaminophen, sedangkan beberapa penelitian yang lain menunjukkan keuntungan pemberian NSAIDs dibandingkan dengan acetaminophen. Pemberian NSAIDs lebih menguntungkan untuk mengharapkan efek analgesic post operasi, tetapi efek pendarahan ( paling banyak post tonsilectomi pada anak ) juga harus dipertimbangkan. Ibuprofen terbukti lebih efektif dibanding acetaminophen untuk kasus migraine pada anak.
Pemberian selecktif cox 2 inhibitor belum banyak diteliti pada anak-anak.
Tulisan ini diambil dari :
Berde CB, Sethna NF. Analgesics for the treatment of pain in children. The New England Journal of Medicine. 2002. 374 (14) : 1094-1101.
Subscribe to:
Posts (Atom)


